BATU BARA – jenews.id –
Botol plastik, kaleng, dan kardus bekas kini memiliki nilai lebih bagi ratusan siswa di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Melalui program “Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah”, sampah anorganik yang dikumpulkan para siswa diolah menjadi sumber dana untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anak yatim dari keluarga kurang mampu.
Program ini diinisiasi Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM, bekerja sama dengan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara.
Sebanyak 248 siswa dari MIS Al Mukhlisin terlibat dalam kegiatan pengumpulan sampah anorganik. Hasil penjualan sampah tersebut nantinya dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan 12 siswa yatim, termasuk pengadaan tas dan seragam sekolah.
Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat INALUM, Ali Hasian, mengapresiasi inisiatif Bank Sampah Berseri yang mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan dengan kegiatan sosial.
Menurutnya, program tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan lingkungan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pendidikan anak-anak.
“Kami mengapresiasi inisiatif Sedekah Sampah yang dikembangkan Bank Sampah Berseri. Program ini merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak positif karena mengajarkan anak-anak bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.
“Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim dan kurang mampu. Kami berharap inisiatif ini terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sekaligus berbagi kepada sesama,” ujar Ali.
Program Sedekah Sampah melibatkan 248 siswa dari total 406 siswa MIS Al Mukhlisin. Para peserta berasal dari sembilan kelas tingkat 3 hingga 6.
Dalam pelaksanaannya, siswa mengumpulkan sampah anorganik, seperti botol plastik, kaleng, dan kardus bekas, melalui tempat pengumpulan yang disediakan di setiap kelas.
Petugas Bank Sampah Berseri kemudian melakukan penimbangan sampah setiap Rabu dan Sabtu. Setelah ditimbang, sampah tersebut dibawa ke bank sampah untuk dijual.
Melalui kegiatan ini, pengumpulan sampah ditargetkan mencapai 35 kilogram setiap bulan. Hasil penjualannya akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan siswa yatim di MIS Al Mukhlisin.
Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membangun kesadaran lingkungan, tetapi juga menanamkan semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama sejak dini.
“Sedekah sampah ini harapannya untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa sedekah itu tidak harus uang. Mereka bisa membantu sesama kawannya dan bertanggung jawab dengan sampahnya,” ujar Dedi.
Berbeda dengan mekanisme bank sampah pada umumnya yang mencatat hasil penyetoran sebagai tabungan individu, sampah yang dikumpulkan dalam program ini dihimpun sebagai sedekah bersama.
Dengan demikian, hasil penjualan sampah tidak menjadi milik pribadi siswa, melainkan dimanfaatkan untuk membantu teman-teman mereka yang membutuhkan.
Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang mengajarkan siswa tentang pentingnya kepedulian sosial melalui tindakan sederhana.
Devi berharap, hasil pengumpulan sampah dapat memberikan manfaat langsung bagi siswa yatim, terutama dalam memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah.
“Berapapun yang kami dapat dari bank sampah, nanti juga kami belikan tas sekolah atau sepatu, yang bermanfaat untuk anak-anak itu,” kata Devi.
Bank Sampah Berseri merupakan salah satu kelompok binaan INALUM yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Dalam menjalankan kegiatannya, kelompok ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan dan penjualan sampah anorganik, tetapi juga mengintegrasikan berbagai aktivitas produktif yang saling mendukung.
Kegiatan tersebut meliputi budidaya tanaman hidroponik, peternakan ayam petelur, budidaya maggot, hingga perikanan.
Pendekatan pemberdayaan tersebut turut mendapat apresiasi dari Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian. Ia menilai sistem pengelolaan Bank Sampah Berseri sebagai inovasi menarik karena mampu menghubungkan berbagai kegiatan produktif dalam satu sistem yang saling mendukung.
Melalui program Sedekah Sampah, Bank Sampah Berseri kini memperluas manfaat pengelolaan lingkungan dengan menghadirkan kontribusi nyata bagi sektor pendidikan.
Bagi INALUM, pengembangan kelompok binaan seperti Bank Sampah Berseri merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat yang mendorong kepedulian lingkungan, kemandirian ekonomi, serta manfaat sosial secara berkelanjutan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan komunitas lainnya untuk mengembangkan praktik serupa, yakni memanfaatkan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.(Ros)













