• Latest
  • Trending
Kotoran Sapi Jadi Solusi Ekonomi Hijau, Manfaatnya Berganda

Kotoran Sapi Jadi Solusi Ekonomi Hijau, Manfaatnya Berganda

1 tahun ago

Pastikan Pelayanan Optimal, Baharuddin Siagian Tinjau Program BERLAYAR di Talawi

8 jam ago
Bupati Batu Bara Tepung Tawari Jemaah Calon Haji 1447 H

Bupati Batu Bara Tepung Tawari Jemaah Calon Haji 1447 H

2 hari ago
Bupati Batu Bara Tepung Tawari Jemaah Calon Haji 1447 H

Bupati Batu Bara Tepung Tawari Jemaah Calon Haji 1447 H

2 hari ago
INALUM Serahkan Bantuan CSR di Kawasan Operasional Paritohan, Sentuh Pendidikan hingga Ekonomi Warga

INALUM Serahkan Bantuan CSR di Kawasan Operasional Paritohan, Sentuh Pendidikan hingga Ekonomi Warga

2 hari ago
PT INALUM: Menempa Keberhasilan, Menjaga Masa Depan Lewat ESG

PT INALUM: Menempa Keberhasilan, Menjaga Masa Depan Lewat ESG

4 hari ago
PT Inalum Ajak Wartawan Sumut Lewat Inalum Journalistic 

PT Inalum Ajak Wartawan Sumut Berkompetisi Lewat Inalum Journalistic 

5 hari ago
PT Inalum Ajak Wartawan Sumut Lewat Inalum Journalistic 

INALUM Ajak Wartawan Sumut Berkompetisi Lewat Injournalistic

5 hari ago
PT Inalum Ajak Wartawan Sumut Lewat Inalum Journalistic 

PT Inalum Ajak Wartawan Sumut Lewat Inalum Journalistic 

5 hari ago
24 April 2026: Karnaval Pesta Rakyat Warnai HUT ke-155 Siantar, Dua Jalan Utama Ditutup 4 Jam

24 April 2026: Karnaval Pesta Rakyat Warnai HUT ke-155 Siantar, Dua Jalan Utama Ditutup 4 Jam

5 hari ago
Dituduh Jadi Aktor Pungli, Kasek SMK-N 1 Idanogawo Sampaikan Klarifikasi

Dituduh Jadi Aktor Pungli, Kasek SMK-N 1 Idanogawo Sampaikan Klarifikasi

1 minggu ago
Kapolres Batu Bara Pimpin Sertijab, Kapolsek Labuhan Ruku Resmi Berganti

Kapolres Batu Bara Pimpin Sertijab, Kapolsek Labuhan Ruku Resmi Berganti

1 minggu ago
Nagur Bolag Nilai Sikap DPRD Sumut soal HGU Bridgestone “Miris”

Nagur Bolag Nilai Sikap DPRD Sumut soal HGU Bridgestone “Miris”

1 minggu ago
  • Beranda
  • Redaksi
  • Sumut
    • Medan
    • Deli Serdang
    • Pematang Siantar
    • Teb. Tinggi
    • Simalungun
    • Asahan
    • Batu Bara
    • Kepulauan Nias
    • Pakpak Bharat
    • Dairi
    • Samosir
    • Tanjung Balai
    • Dairi
    • Sergai
    • Tapanuli
    • Sumut Sekitarnya
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Politik
  • Internasional
  • Batam
  • Bisnis
  • Olahraga
  • LifeStyle
    • Budaya
    • Edukasi
    • Food & Drink
    • Resep Masakan
    • Kesehatan
    • Selebriti
    • Traveling
    • Wisata
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Komputer
    • Software
Rabu, April 22, 2026
Rabu, April 22, 2026
  • Login
JeNews
  • Beranda
  • Redaksi
  • Sumut
    • Medan
    • Deli Serdang
    • Pematang Siantar
    • Teb. Tinggi
    • Simalungun
    • Asahan
    • Batu Bara
    • Kepulauan Nias
    • Pakpak Bharat
    • Dairi
    • Samosir
    • Tanjung Balai
    • Dairi
    • Sergai
    • Tapanuli
    • Sumut Sekitarnya
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Politik
  • Internasional
  • Batam
  • Bisnis
  • Olahraga
  • LifeStyle
    • Budaya
    • Edukasi
    • Food & Drink
    • Resep Masakan
    • Kesehatan
    • Selebriti
    • Traveling
    • Wisata
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Komputer
    • Software
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Redaksi
  • Sumut
    • Medan
    • Deli Serdang
    • Pematang Siantar
    • Teb. Tinggi
    • Simalungun
    • Asahan
    • Batu Bara
    • Kepulauan Nias
    • Pakpak Bharat
    • Dairi
    • Samosir
    • Tanjung Balai
    • Dairi
    • Sergai
    • Tapanuli
    • Sumut Sekitarnya
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Politik
  • Internasional
  • Batam
  • Bisnis
  • Olahraga
  • LifeStyle
    • Budaya
    • Edukasi
    • Food & Drink
    • Resep Masakan
    • Kesehatan
    • Selebriti
    • Traveling
    • Wisata
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Komputer
    • Software
No Result
View All Result
JeNews
No Result
View All Result
Home Berita

Kotoran Sapi Jadi Solusi Ekonomi Hijau, Manfaatnya Berganda

November 8, 2024
in Berita
Kotoran Sapi Jadi Solusi Ekonomi Hijau, Manfaatnya Berganda

LANGKAT | Jenews.id  – Penerapan ekonomi hijau memang sudah seharusnya menjadi wujud transformasi negara untuk maju menggunakan sumber daya alam sebagai peran utamanya.

Ekonomi hijau merupakan sistem yang rendah karbon, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan inklusif secara sosial. Salah satunya seperti yang diterapkan Desa Kebun Kelapa, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, dengan memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik.
Pemanfaatan ini dilakukan dengan membuat sebuah demplot yang diberi nama Agro Lestari sebagai media eksperimen dan pembelajaran.
Ketua Kelompok Agro Lestari, Syahrudin menjelaskan bahwa pembentukan tim ini dimulai sejak 2022 didampingi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Bitra Indonesia.

“Sudah ada sekitar 7 kali, kami coba dengan menanam jagung, terong, cabai dan lainnya. Selama sekitar 3 tahun ini kami telah menjalani sekolah lapang iklim bersama Bitra Indonesia di persawahan, pembuatan kompos yang telah dilakukan sebanyak 4 kali, pembuatan demplot serta pembangunan biogas,” jelasnya di kawasan Demplot, Kebun Kelapa, Langkat, Rabu (23/10).

Direktur Yayasan Bitra Indonesia, Yusdiana menjelaskan bahwa selama 40 tahun berdiri isu organik menjadi salah satu program yang digaungkan.
“Dalam pembinaan kelompok ini sudah banyak yang dilakukan mulai dari pelatihan, pembentukan demplot sayur organik dan di level pemerintah desa kami juga mendorong lahirkan peraturan desa (Perdes) tentang pertanian ramah lingkungan dan saat ini sudah diimplementasikan, termasuk pengembangan biogas,” jelasnya.

>> Pembuatan Biogas dan Pemanfaatannya

Terkait biogas, ketua kelompok tersebut, menjelaskan bahwa dirinya juga telah menerapkannya selama 2 tahun di rumah sebagai alternatif yang ramah lingkungan dan mengurangi pemakaian liquified petroleum gas (LPG).

“Pemanfaatan biogas ini cukup terasa dalam mengurangi biaya rumah tangga, jadi sekarang masak sudah menggunakan alternatif ini, namun memang ada beberapa kekurangannya seperti ketahanannya dan juga tingkat panasnya,” ungkapnya menjelaskan.
Dalam pembuatannya, Syahrudin mengatakan untuk ukuran 1 meter x 1 meter dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk menghasilkan gas.
“Untuk prosesnya terdapat dua bak untuk pemasukan dan pembuangan, sementara untuk ukuran biogasnya lebar 1 meter, tinggi 1 meter dan tinggi payung sekitar 90 centimeter. Dibuat bentuk payung ini agar tersebut dapat maksimal terkumpul,” jelasnya sembari menunjukan bak untuk memasukan kotoran sapi.
Lanjut Syahrudin, terdapat lubang di dalam instalasi biogas tersebut sehingga menghasilkan limbah di dalam bak pembuangan. Limbah kotoran sapi ini bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Jika gasnya sudah banyak bisa kita lihat di bak pembuangannya apakah naik, jika naik maka sudah siap untuk digunakan, untuk alirannya menggunakan pipa biasa. Sementara untuk limbahnya dapat digunakan untuk pupuk organik ke sayuran dan airnya bisa ke padi,” katanya memperlihatkan saluran pipa yang menjadi penghubung gas.

“Sedangkan untuk saluran ke kompornya harus diubah ke ukuran yang lebih besar sehingga sesuai, kurang lebih prosesnya seperti penerapan gas bumi yang dilakukan Perusahaan Gas Negara (PGN),” sambungnya menguraikan.

>> Dampak Pupuk Organik

ADVERTISEMENT

Dalam proses penamam organik, Syahrudin mengakui banyak dampak positif yang dirasakan, antara lain minimnya pembiayaan untuk pembelian pupuk kimia dan pestisida. Selain itu, tanaman juga jauh lebih sehat dan panen yang berkepanjangan.

“Alasan saya beralih ke pupuk organik karena memikirkan masa depan anak dan cucu. Pada awal-awal bertani, satu hektare membutuhkan 1 kilogram pupuk di tahun pertama, tapi di tahun kedua dan seterusnya bertambah,” ungkapnya.

“Sedangkan jika kita menggunakan pupuk organik saat ini 1 ton maka di tahun berikutnya bisa 900 kilogram dan menurun setiap tahun. Kadar tanahnya juga semakin bagus walaupun membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 tahun,” lanjut Syahrudin yang sudah bertani selama 10 tahun.

Di samping proses ini, Syahrudin juga mengungkapkan bahwa masih banyak tantangan serta minimnya edukasi masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Dirinya juga sempat diejek karena melakukan sistem bertani yang berbeda dengan lainnya.

“Awal-awal banyak orang yang menertawakan karena saya menggunakan sistem organik ini untuk padi dan lainnya termasuk biogas, tapi setelah melihat hasilnya mereka penasaran dan sadar walaupun masih banyak yang belum menerapkan karena pemikiran dan ribetnya pengelolaan,” ucapnya. (mtr)

ADVERTISEMENT
Previous Post

Ini yang Akan Terjadi pada Tubuh Anda, Jika Rajin Komsumsi Ikan

Next Post

Kabupaten Batubara dapat Bantuan Lampu Penerangan Jalan

Next Post
Kabupaten Batubara dapat Bantuan Lampu Penerangan Jalan

Kabupaten Batubara dapat Bantuan Lampu Penerangan Jalan

JeNews

© jenews.id|2024

Navigate Site

  • Beranda
  • Redaksi
  • Sumut
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Politik
  • Internasional
  • Batam
  • Bisnis
  • Olahraga
  • LifeStyle
  • Teknologi

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Redaksi
  • Sumut
    • Medan
    • Deli Serdang
    • Pematang Siantar
    • Teb. Tinggi
    • Simalungun
    • Asahan
    • Batu Bara
    • Kepulauan Nias
    • Pakpak Bharat
    • Dairi
    • Samosir
    • Tanjung Balai
    • Dairi
    • Sergai
    • Tapanuli
    • Sumut Sekitarnya
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Nasional
  • Politik
  • Internasional
  • Batam
  • Bisnis
  • Olahraga
  • LifeStyle
    • Budaya
    • Edukasi
    • Food & Drink
    • Resep Masakan
    • Kesehatan
    • Selebriti
    • Traveling
    • Wisata
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Gadget
    • Komputer
    • Software

© jenews.id|2024

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Artikel ini telah dilihat : 199 kali.