BATU BARA | Jenews.id – Gelombang kemarahan masyarakat akhirnya meledak. Ratusan massa yang tergabung dalam Pers Batu Bara Bergerak turun langsung menggelar aksi besar-besaran di depan gerbang Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Senin (11/05/2026).
Aksi berlangsung tertib namun penuh tekanan moral terhadap dugaan bobroknya pengawasan di dalam lapas.
Aksi dipimpin langsung Sultan Aminuddin alias Ucok Kodam. Dalam orasi lantang yang menggema di depan gerbang lapas, Nando Sagala menegaskan bahwa masyarakat sudah terlalu lama disuguhi dugaan praktik gelap yang dianggap terus dipelihara tanpa penyelesaian nyata.
Massa aksi menuding berbagai dugaan praktik ilegal di dalam lapas bukan lagi isu biasa, melainkan persoalan serius yang dinilai mengancam masa depan generasi muda Batu Bara.
Massa Mendesak Negara Tidak Tutup Mata
Dalam tuntutannya, massa mendesak Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, turun langsung ke Lapas Labuhan Ruku untuk membongkar seluruh dugaan praktik mafia yang disebut-sebut sudah menjadi rahasia umum.
Massa juga mendesak:
pengusutan dugaan kematian narapidana secara transparan, pembongkaran dugaan peredaran narkoba dari dalam lapas, pengusutan penggunaan HP ilegal oleh napi, dugaan praktik wartel modus menit, dugaan rekening penampung transaksi napi, hingga dugaan jual beli kamar dan fasilitas khusus.
Tak hanya itu, massa secara tegas meminta pencopotan Kalapas Kelas IIA Labuhan Ruku sebagai bentuk tanggung jawab moral atas berbagai dugaan persoalan yang terus mencoreng nama institusi pemasyarakatan.
Humas lapas juga ikut disorot karena dinilai gagal menjaga keterbukaan informasi publik dan dianggap memperkeruh hubungan dengan insan pers.
“Jangan Jadikan Penjara Sarang Mafia!”
Dalam orasinya, massa menyampaikan kritik keras terhadap kondisi lapas yang dinilai semakin memprihatinkan.
“Kalau narkoba masih bisa dikendalikan dari balik jeruji besi, lalu sebenarnya siapa yang sedang mengendalikan negara ini?”
Massa menilai publik mulai kehilangan kepercayaan ketika: narkoba disebut tetap beredar, jaringan disebut tetap hidup, transaksi ilegal diduga terus berjalan, sementara razia hanya dianggap formalitas dan pencitraan.
Aksi tersebut disebut bukan gerakan anti pemerintah, melainkan bentuk perlawanan moral masyarakat terhadap dugaan pembiaran sistemik yang dianggap telah merusak marwah hukum.
Desak Audit Total dan Investigasi Independen
Pers Batu Bara Bergerak juga mendesak: audit total sistem pengawasan internal lapas, pemeriksaan aliran uang dan dugaan keterlibatan oknum, serta pembentukan tim investigasi independen untuk membongkar dugaan jaringan yang bermain di balik lapas.
Komnas HAM, Ombudsman RI, dan aparat penegak hukum juga diminta turun langsung melakukan pemeriksaan terbuka dan independen.
Menurut massa, ketika kejahatan diduga masih tumbuh subur bahkan di dalam penjara, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nama lembaga pemasyarakatan, tetapi juga masa depan hukum dan keselamatan generasi muda Batu Bara.
Kalapas dan Kapolsek Temui Massa
Aksi akhirnya diterima langsung oleh Kalapas Kelas IIA Labuhan Ruku, H. Hasibuan, bersama Kapolsek Talawi.
Dalam sambutannya, Kalapas mengaku baru menjabat dan berjanji akan melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dalam lapas.
Ia juga berjanji akan membuka komunikasi lebih baik dengan wartawan dan masyarakat.
Sementara Kapolsek Talawi memastikan pengamanan aksi berjalan aman dan kondusif.
Sekitar pukul 12.00 WIB, massa aksi membubarkan diri secara tertib dengan satu pesan keras:
“Lapas bukan tempat membesarkan mafia narkotika. Negara tidak boleh kalah di balik tembok penjara!” tegas massa.(Ros)













